Dua Wujud Software

cover Dua Wujud Software

Kunci dalam membongkar kejahatan nonfree software ialah memahami 2 wujud software. Kunci ini bagian dari computer science, yang sering tidak dipahami dan sengaja tidak dipahamkan di masyarakat umum. Tanpa mengetahui 2 wujud software, masyarakat umum sangat mudah ditipu dan dikendalikan seenaknya oleh pengembang proprietary software. Maka tulisan ini memberi pengertian 2 wujud software yang berlaku universal untuk segala software pada segala hardware pada segala OS dalam bahasa yang mudah untuk orang awam. Tulisan ini ditujukan sebagai referensi setiap ada pembahasan software freedom.

1. Contoh-Contoh Software
Jangan Anda menyangka software itu hanya seperti Microsoft Office. Ada jendelanya, ada tombol-tombol, interaksi pakai klik mouse. Tidak, software tidak hanya itu. Jenis software itu sangat banyak dalam penampilan bermacam ragam, diciptakan untuk beragam macam hardware dan perangkat, tidak hanya yang seperti Office.

  • GUI software: seperti LibreOffice, Mozilla Firefox.
  • Console software: seperti GNU bash, FFMPEG.
  • Firmware: software yang berfungsi di dalam perangkat, seperti firmware-nya VGA, firmware-nya WLAN device.
  • Driver: software yang berfungsi di dalam OS tapi bukan di dalam perangkat, seperti driver-nya VGA, driver-nya WLAN device.
  • Library: ini juga software, dia menyediakan fungsi-fungsi (atau “mantra-mantra”) bagi software lain. Contohnya GNU C Library dan Qt Framework.
  • BIOS: ini juga software, dia berfungsi di dalam motherboard, dan dia termasuk golongan firmware.
  • OS: sistem operasi itu juga software, tepatnya kesatuan dari banyak software yang saling terintegrasi & berkomunikasi sama satu sama lain, tanpa OS sebuah komputer tidak berfungsi. Contohnya GNU atau Windows.

2. Jenis-Jenis Komputer
Jangan Anda kira komputer (hardware) hanyalah berjenis PC. Jenis komputer (diistilahkan arsitektur hardware) itu sangat banyak. PC/laptop yang Anda gunakan adalah jenis x86, di luar itu ada ARM, ada SPARC, PowerPC, MIPS, Itanium, dan lain-lain. Yang perlu Anda pahami ialah sebuah software yang sama untuk satu arsitektur tidak berjalan di arsitektur lain. Software harus di-compile ulang dari source code-nya secara khusus untuk suatu arsitektur agar terbentuk binary code (versi siap pakai) untuk arsitektur tersebut. Contohnya sebagai berikut:

  • Anggap Microsoft Office hanya dirilis untuk x86. Apabila pengguna mau membuat versi ARM-nya, maka source code Microsoft Office harus di-recompile khusus untuk ARM, akhirnya terbentuklah Microsoft Office versi ARM.
  • Anggap Windows hanya dirilis untuk x86. Apabila pengguna mau membuat versi PowerPC-nya, maka source code Windows harus di-recompile khusus untuk PowerPC, akhirnya terbentuklah Windows versi PowerPC.

3. Dua Wujud Software
Setiap software di muka bumi ini memiliki 2 wujud:

  • Wujud primer, dinamakan source code.
  • Wujud sekunder, dinamakan binary code.

Terkadang, binary code disebut juga “object code” atau “runnable code” atau di Windows disebut “executable”.

4. Apa Itu Source Code
Source code adalah teks tertulis kode-kode bahasa manusia (tampak luarnya Bahasa Inggris dicampur matematika) dalam aturan tertentu yang menentukan bagaimana komputer berperilaku apabila menjalankannya. Source code ditulis dengan ilmu yang disebut “pemrograman” dalam aturan tertentu yang disebut “bahasa pemrograman”. Source code bisa ditulis di atas kertas atau disimpan dalam bentuk data plain text. Source code tidak dapat dijalankan oleh komputer. Contoh format source code digital .txt, .cpp, .py, .sh, .html.

5. Apa Itu Binary Code
Binary code adalah data digital yang berisi kode-kode bahasa mesin yaitu angka-angka 0 dan 1 yang dapat dijalankan langsung oleh komputer untuk melakukan tugas tertentu. Binary code diperoleh dari menerjemahkan source code dengan teknik bernama “compiling” dengan perangkat bernama “compiler”; atau teknik “interpreting” dengan perangkat “interpreter”. Contoh format binary code .exe, .deb, .rpm, .dmg.

6. Sifat Wujud Software
Dua wujud software tersebut memiliki sifat-sifat yang pasti dan universal, berlaku untuk semuanya tanpa kecuali:

  • Source code bisa diubah menjadi binary code, tetapi tidak sebaliknya.
  • Software yang berjalan di komputer itu pasti berwujud binary code.
  • Komputer hanya mampu menjalankan software dalam bentuk binary code.
  • Komputer tidak bisa menjalankan software dalam bentuk source code.
  • Yang disebut software ialah source code.
  • Tanpa source code tidak ada software.

Contoh: jika sekarang Anda sedang menjalankan Mozilla Firefox, maka program ini pasti sudah berbentuk binary, karena komputer Anda bisa menjalankannya. Adapun source code program ini harus Anda peroleh sendiri misalnya dari situs resminya.

7. Sifat Perubahan Wujud Software
Selain sifat dari masing-masing wujud, sifat dari perubahannya ada sendiri, dan semua orang berhak tahu:

  • Source code bisa diubah menjadi binary code untuk arsitektur hardware tertentu.
  • Binary code yang diproduksi untuk satu arsitektur hardware, tidak bisa disesuaikan berjalan untuk arsitektur hardware lain.
  • Source code bisa diubah menjadi binary code untuk sistem operasi tertentu.
  • Binary code yang diproduksi untuk satu sistem operasi, tidak bisa disesuaikan berjalan untuk sistem operasi lain.

Dengan kata lain ada 2 sifat utama, yakni setiap software itu bisa di-reproduksi oleh semua orang (tidak hanya pengembangnya) untuk semua jenis komputer tanpa kecuali dan untuk semua jenis OS tanpa kecuali pula. Syarat mutlaknya source code harus dipegang pengguna.

8. Pahami Compiling dan Porting
Tindakan mengubah wujud software diistilahkan compiling, dan terkadang diistilahkan porting. Kadang keduanya diistilahkan juga building. Kurang lebih maknanya sama = mengubah. Yang perlu Anda pahami ialah hak Anda atas compiling & porting tidak boleh hilang. Adapun pengertiannya:

  • Compiling: mengubah source code menjadi binary code untuk OS tertentu. Jadi seharusnya Microsoft Office misalnya bisa dibuat versi GNU/Linux dengan cara compiling source code-nya oleh pengguna dan hasilnya Microsoft Office versi GNU/Linux.
  • Porting: mengubah source code menjadi binary code untuk jenis komputer tertentu. Jadi seharusnya Windows misalnya bisa dibuat versi PowerPC, SPARC, MIPS, ARM, dll. oleh pengguna dan hasilnya Windows yang bisa berfungsi pada komputer-komputer tersebut.
  • Building: istilah ini sering dipakai untuk menyebut keduanya. Sama saja.

9. Pahami Hak Pengguna Software
Perhatikan betul-betul bagian sifat wujud software di atas. Poin yang paling penting adalah “yang disebut software ialah source code, tanpa source code tidak ada software”.

  • Bila pengguna memegang source code, maka dia bisa menjalankan software di jenis komputer apa pun, di OS apa pun, tanpa kecuali dan tanpa batas.
  • Maka tidak ada VGA/WLAN/printer/scanner yang tidak bisa difungsikan di OS apa pun atau dengan jenis komputer apa pun.
  • Pengguna bisa mengubah, mempelajari, memperbaiki, software sesuai kehendak untuk keperluan apa pun pada OS apa pun pada komputer apa pun.

10. Hak Memeriksa Cacat Barang
Jika dianggap semua distribusi software adalah jual-beli, maka setiap pembeli berhak memeriksa cacat atau aib pada software yang dijual. Jika pembeli sudah telanjur membeli, dia harus berhak menghilangkan atau memperbaiki cacat itu. Ini mustahil dilakukan tanpa source code. Karena source code itulah software dan di dalam source code itulah tertulis seluruh cara kerjanya. Software yang sudah berbentuk binary tidak dapat diketahui dan tidak dapat diperbaiki cacatnya.

11. Hak Makhluk Sosial
Pengguna adalah manusia dan semuanya makhluk sosial. Maka antara pengguna pasti terjalin hubungan saling meminta tolong. Itulah sosial. Maka software seharusnya membebaskan pengguna menyalin dan menggandakan software, dalam bentuk source code maupun binary code, salinan maupun termodifikasi, software itu sendiri maupun perbaikannya, dengan harga berapa pun. Jika pengembang memblokir atau bahkan mengkriminalkan hak ini, pengembang itu tidak adil terhadap pengguna.

Penting: jika source code diblokir oleh pengembang, otomatis hak makhluk sosial ini hilang.

12. Kemampuan Pengguna
Pengguna yang tidak tahu ilmu software tetap berhak atas source code. Karena dengan hak ini mereka masih bisa minta orang yang berilmu untuk memeriksakannya. Jika pengembang sengaja memblokir atau bahkan mengkriminalkan hak ini, pengembang itu tidak adil terhadap pengguna.

13. Kasus Nyata
Sekarang terapkan wujud, sifat-sifat, dan hak-hak pengguna di atas kepada kasus nyata: Petunjuk

  • Petunjuk 1: bila ada source code, maka compiling bisa dilakukan.
  • Petunjuk 2: bila ada source code, maka porting bisa dilakukan.
  • Petunjuk 3: bila ada source code, maka perbaikan bisa dilakukan.
  • Petunjuk 4: bila ada source code, maka pengembangan bisa dilakukan.

Kasus

  • Microsoft Office: kenapa dia tidak tersedia untuk GNU/Linux? Jawaban: karena source code-nya tidak diberikan ke pengguna. Maka hak compiling pengguna hilang.
  • Microsoft Office: kenapa dia hanya tersedia untuk PC? Jawaban: karena source code-nya tidak diberikan ke pengguna. Jika source code ada, maka pengguna bisa membuat versi hardware lain (ARM, PowerPC, SPARC, dll.) dengan cara mem-porting source code tersebut. Maka hak porting pengguna hilang.
  • Windows semua versi: kenapa dia terbukti mengandung malware? Jawaban: karena source code-nya tidak diberikan ke pengguna maka aibnya/cacatnya tersembunyi, dan semua pengguna tidak bisa memperbaiki cacat tersebut.
  • Windows semua versi: kenapa updates hanya disediakan oleh Microsoft? Jawaban: karena source code-nya tidak diberikan ke pengguna. Cacat yang ada pada Windows hanya diketahui oleh pengembangnya sendirian, dan pengguna tidak boleh+tidak bisa memperbaiki.
  • Windows XP: kenapa dia mati dan tidak dikembangkan lagi? Jawaban: karena source code-nya tidak diberikan ke pengguna. Jika source code ada, maka pengguna bisa melanjutkan pengembangan XP. Maka hak pengembangan pengguna hilang.
  • Photoshop dan CorelDRAW dan Flash dan Premiere dan AutoCAD: kenapa mereka tidak tersedia untuk GNU/Linux? Jawaban: karena source code-nya tidak diberikan ke pengguna. Maka hak porting pengguna hilang.
  • Windows dan Photoshop dan proprietary software lain: kenapa ketika ditemukan celah keamanan dan kerusakan internal, semua pengguna tidak bisa memperbaikinya? Jawaban: karena source code-nya tidak diberikan ke pengguna. Jika source code ada, pengguna bisa melakukan perbaikan dan mengirimkan perbaikan kepada orang lain.

Microsoft Windows itu adalah malware. Baca https://gnu.org/proprietary/malware-microsoft.html.

14. Malware dan Virus
Untuk lebih memahami ini, kita perlu melihat dunia malware & virus. Segala jenis malware termasuk virus, trojan, spyware, dan ransomware tidak memberikan source code-nya kepada pengguna. Semua virus ialah software berwujud binary. Karena tidak ada software bisa dijalankan oleh komputer kecuali dia berbentuk binary. Yang perlu Anda pahami di sini adalah kerugian pengguna oleh malware selalu diawali dari pemblokiran source code. Kasus

  • Semua jenis virus yang menyerang Windows pasti berwujud binary code.
  • Semua ransomware yang mengunci data pengguna pasti berwujud binary code & tidak memberikan source code dirinya sendiri ke pengguna.
  • Demikian pula semua malware lain seperti trojan, ransomware, worm, spyware, adware, drm, dan jail.

Dampak

  • Sengaja memblokir source code dari pengguna adalah cara terbaik mencelakakan pengguna.
  • Sengaja memblokir source code adalah cara menutupi aib/cacat barang secara mutlak.
  • Tidak ada source code, tidak bisa diketahui aib/cacatnya.
  • Tidak ada source code, tidak bisa dipelajari cara kerjanya, tidak bisa diubah sifatnya, tidak bisa diperbaiki, dan tidak bisa ditolak perilakunya.

Maka curigai semua software yang sengaja tidak memberikan pengguna source code-nya. Jangan taruh kepercayaan sedikit pun. Ini termasuk Windows dan Microsoft Office.

Kesimpulan

  • Dua wujud software itu ialah source code dan binary code.
  • Binary code dihasilkan dari source code.
  • Wujud software terpenting adalah source code, dan ini fatal bagi pengguna apabila diblokir oleh pengembang.
  • Dengan source code pengguna memegang seluruh haknya yang fundamental yaitu hak menjalankan, mempelajari, mengubah (termasuk compiling dan porting), mendistribusikan; tanpa source code pengguna kehilangan keempat haknya tersebut.
  • Memblokir hak pengguna atas source code adalah perilaku tidak adil yang merugikan pengguna secara fatal.
  • Memblokir source code = antisosial, menghapus hak sosial pengguna.
  • Memblokir source code = menghilangkan terlalu banyak hak-hak pengguna. Hilang hak compiling, hak porting, hak memeriksa cacat, hak memperbaiki, dan hilang hak jual-beli.
  • Jika source code diblokir, maka hak-hak fundamental pengguna beralih penuh ke tangan pengembang.

Ringkasan Hak-Hak Pengguna
Apabila pengguna berhak atas source code, hak-hak pengguna sangat banyak sebagai berikut:

  • compiling untuk OS apa pun
  • interpreting untuk OS apa pun dengan interpreter apa pun
  • porting untuk arsitektur hardware apa pun
  • bugfixing bila software punya cacat
  • patching atas cacat yang ditemukan
  • mengubah cara kerja software sesuai keinginan
  • menjalankan software tanpa batas waktu & tanpa batas fungsi
  • mendistribusikan binary code (hasil compiling/porting) ke orang lain
  • mendistribusikan source code (asli/termodifikasi) ke orang lain
  • jual-beli software dalam bentuk binary maupun source
  • meminta orang lain mengerjakan aktivitas di atas

Apabila pengguna diblokir haknya atas source code, semua hak-hak itu hilang.

Sumber : https://restava.wordpress.com/2017/04/01/dua-wujud-software/

Kumpulan Pranala Perbandingan Keamanan Sistem Operasi Linux dan Windows

cover Kumpulan Pranala Perbandingan Keamanan Sistem Operasi Linux dan Windows

Berikut ini kumpulan pranala yang menjelaskan keamanan sistem operasi GNU/Linux (dan Unix/Unix-like pada umumnya) dibandingkan dengan Windows secara internal. Artikel ini pada dasarnya tidak termasuk perbandingan secara eksternal. Artikel ini saya dedikasikan untuk mereka yang meriset mengenai keamanan sistem operasi. Semoga dapat membantu memberikan pranala-pranala yang relevan. Artikel ini tersimpan sebagai kerangka karangan sejak September 2015. HTML

PDF

Saya sangat tidak suka jawaban orang yang menjawab “karena pengguna Windows lebih banyak” (eksternal) untuk pertanyaan “mengapa sistem operasi Windows kurang aman dibanding GNU/Linux?” (internal). Pertama, karena jawaban itu sudah melenceng (pertanyaan internal, jawaban eksternal). Kedua, karena berkesan “bangga jumlah” (padahal marketshare GNU/Linux > Windows di server). Ketiga, karena jawaban tadi berkonsekuensi “GNU/Linux lebih tidak aman dibanding Windows karena jumlah penggunanya sedikit” yang ganjil. Keempat, karena konsekuensi lainnya adalah “jika jumlah instalasi GNU/Linux > Windows, maka Linux juga akan menjadi tidak aman” yang juga ganjil. Saya tidak butuh jawaban eksternal. Saya butuh jawaban internal, fakta dan kenyataan, yang menandakan Anda mengerti betul sisi internal kedua sistem dan menjawab secara internal pula. Jangan melenceng sana-sini yang menunjukkan kapabilitas Anda sebenarnya. Jangan seenaknya ngomong “tergantung penggunanya” untuk pertanyaan internal macam ini. Jangan menghalangi orang yang ingin mengetahui fakta sesungguhnya soal keamanan Windows. Di atas saya catat beberapa pranala hasil pencarian saya sebagai bahan penulisan buku nanti. Di bawah ini beberapa contoh jelek diskusi yang saya tidak suka itu. Semoga ini bermanfaat.

Contoh Tulisan yang Jelek

Sumber : https://restava.wordpress.com/2016/01/09/kumpulan-pranala-perbandingan-keamanan-sistem-operasi-linux-dan-windows/

Mengapa GNU/Linux Kebal Malware?

cover Mengapa GNU/Linux Kebal Malware?

Saya percaya keingintahuan masyarakat tentang alasan keamanan GNU/Linux terhadap malware harus memperoleh jawaban yang sederhana dan jelas. Saya berusaha menyarikan sisi-sisi terpenting yang memang sebabnya GNU/Linux kebal malware, kebal ransomware, dibandingkan sistem operasi Microsoft Windows. Tulisan ini hanyalah ringkasan yang tidak menyertakan seluruh alasan teknis. Semoga ini menjawab kebutuhan masyarakat.

1. Perilaku Pengembangnya
Keamanan sebuah produk software bergantung paling mendasar pada perilaku pengembangnya. Jika pengembang tidak menghormati kebebasan pengguna dan masyarakat, hasilnya adalah ketidakamanan, dan itu hakikat masalah malware dan ransomware. Bagaimana perilaku pengembang GNU/Linux?

  • Pengembang GNU (yaitu FSF) menunaikan hak-hak pengguna: menunaikan source code seluruh sistem software-nya sehingga pengguna di seluruh dunia memegang hak memeriksa cacat, mempelajari cara kerja, memperbaiki, dan saling berbagi (memberi & menerima) perbaikan. Sistem operasi GNU diterbitkan sebagai free software.
  • Pengembang Linux (yaitu jajaran tim Proyek Kernel.org) menunaikan hak-hak pengguna, memberikan source code ke pengguna, kernel Linux diterbitkan sebagai free software.
  • Pengembang distribusi GNU/Linux (seperti Ubuntu, Debian, openSUSE, Fedora, Trisquel) juga menunaikan hak-hak pengguna, melepas produk GNU/Linux masing-masing sebagai free software dan menunaikan source code. Pengembang berbeda distro satu sama lain saling kirim-mengirim perbaikan apabila cacat/celah ditemukan.

Bandingkan: pengembang Windows mencabut hak pengguna untuk memeriksa cacat, memperbaiki, dan berbagi perbaikan (memberi dan menerima). Anda bisa tahu ini dari lisensinya [https://linuxdreambox.wordpress.com/2017/01/31/windows-10-license-restrictions-on-the-users/]. Pengembang Windows juga sengaja tidak menunaikan source code produknya ke pengguna. Jika terdapat celah, maka semua pengguna tidak akan sadar dan tidak akan bisa memperbaiki. Nonfree software selalu tidak punya keamanan terhadap satu poin terfatal: terhadap pengembangnya.

Baca referensi FSF Free Software Is Even More Important Now [https://www.gnu.org/philosophy/free-software-even-more-important.html].

2. Software Freedom
Free software adalah software yang menghormati kebebasan pengguna dan masyarakat. Kebebasan yang dimaksud ialah kuasa penuh pengguna terhadap perkomputerannya sendiri. Keamanan sistem komputer hanya dicapai apabila kuasa penuh itu di tangan pengguna, dan ini dinamakan software freedom. Kriterianya ada 4:

  • 0) Hak menjalankan software untuk tujuan apa pun sesuai kehendak pengguna
  • 1) Hak mempelajari cara kerja software, dan mengubahnya sesuai kehendak pengguna (akses atas source code syarat untuk ini)
  • 2) Hak mendistribusikan salinan software
  • 3) Hak mendistribusikan perubahan software (akses atas source code juga syarat untuk ini)

Fakta terpentingnya ialah,

  • GNU/Linux menunaikan software freedom ini utuh kepada pengguna dan masyarakat
  • Windows adalah nonfree software, menihilkan kuasa pengguna atas perkomputerannya sendiri, malah memberikan kuasa itu ke pengembangnya

Baca definisi free software resmi oleh FSF [https://www.gnu.org/philosophy/free-sw.html]. Baca juga esai FSF Freedom or Power? [https://www.gnu.org/philosophy/freedom-or-power.html].

3. Source Code
Wujud original setiap software adalah source code. Pada wujud inilah software dapat diperiksa oleh manusia cara kerjanya, cacatnya, kelemahannya lalu kemudian diubah atau diperbaiki. Maka sistem software yang sengaja tidak memberi source code ke pengguna tidak bisa dipercaya dan tidak mungkin aman.

Fakta penting:

  • Semua ransomware dan keumuman malware memblokir pengguna dari source code dan itu sebabnya pengguna celaka.
  • Windows memblokir pengguna dari source code. Artinya semua pengguna tidak akan tahu apabila Microsoft menanam malware di dalam Windows.
  • Maka Windows dan ransomware (malware) adalah nonfree software.
  • GNU/Linux menunaikan source code kepada pengguna sampai level komponen terkecil di setiap versi dan di setiap nomor rilis. Artinya semua pengguna berhak tahu bila ada cacat dan bisa mengambil tindakan secepat mungkin.

Baca referensi FSF Free Software Is Even More Important Now [https://www.gnu.org/philosophy/free-software-even-more-important.html].

4. Ciri-Ciri Teknisnya
Di luar pembahasan software freedom dan sikap pengembang, GNU/Linux itu sendiri sudah sangat lain dibandingkan Windows dari segi teknis:

  • Semua OS populer di dunia ini adalah keluarga UNIX, termasuk GNU/Linux, kecuali Windows
  • Windows bukan keluarga UNIX
  • Salah satu ciri keluarga UNIX adalah multiuser

Fakta terpenting:

  • Multiuser memisahkan antara pengguna power (disebut root) dan pengguna biasa. Program tidak bisa diinstal oleh pengguna selain power. GNU/Linux demikian.
  • Multiuser juga membuat GNU/Linux memiliki banyak user secara bawaan, setiap user dibatasi kuasanya mengendalikan process tertentu pada ruang direktori tertentu, sehingga jika user diserang virus maka hanyalah pada ruang itu kerusakan terjadi dan tidak merusak keseluruhan sistem.
  • Sistem operasi singleuser jika diserang virus maka si penyerang langsung menguasai keseluruhan sistem karena satu user menguasai seluruh direktori. GNU/Linux bebas dari hal ini.
  • Virus yang ingin menginstal dirinya ke GNU/Linux, harus punya hak root, dan ini mustahil tanpa keputusan pengguna.

Baca kumpulan pranala perbandingan (teknis) keamanan sistem operasi GNU/Linux [https://aiprojek.home.blog/2020/10/30/kumpulan-pranala-perbandingan-keamanan-sistem-operasi-linux-dan-windows/].

5. Jika Ditemukan Celah
Semua sistem software di dunia memiliki celah. Windows dan GNU/Linux punya celah. Yang harus Anda perhatikan bukan jumlah celah, tetapi perhatikan hak pengguna setelah celah ditemukan:

  • jika ada cacat keamanan di GNU/Linux, apakah pengguna berhak mempelajari, memperbaiki, dan saling berbagi (memberi-menerima) perbaikan? Jawab: YA.
  • jika ada cacat keamanan di Windows, apakah pengguna berhak seperti di atas? Jawab: TIDAK.

Inilah sebabnya GNU/Linux aman secara individual dan sosial karena pengguna tidak dihapus haknya untuk bergotong-royong/saling berbagi perbaikan kapan pun di mana pun secepat mungkin. OS yang memblokir hak gotong royong berarti tidak menghormati kebebasan pengguna dan masyarakat, maka tidak aman.

Baca penjelasan FSF dalam Use Free Software [https://www.gnu.org/philosophy/use-free-software.html].

6. Hukum Alam
Malware dan ransomware yang merugikan pengguna dan masyarakat adalah nonfree software. Cirinya mereka semua satu: tidak menghormati kebebasan pengguna dan masyarakat. Salah satu buktinya ransomware melanggar privasi pengguna dan mencelakakan data. Free software adalah kebalikan total nonfree software, kebalikan total malware. Hukum alam telah kita kenal bersama:

  • Burung hitam hinggap bersama burung hitam, burung putih hinggap bersama burung putih.
  • Nonfree software selalu menarik pengguna kepada nonfree software yang lain.
  • Free software selalu menarik pengguna kepada free software yang lain.

Maka dari hukum ini kita sangat mengenal kejadian nyata:

  • Windows selalu menarik pengguna kepada malware.
  • Malware selalu menarik pengguna kepada nonfree software (mis. antivirus yang nonfree).
  • Nonfree software selalu menarik pengguna kepada OS yang nonfree (seringnya, Windows).

Dan dari hukum yang sama kejadian sebaliknya kita kenal pula:

  • GNU/Linux selalu menarik pengguna jauh dari malware.
  • Free software selalu menarik pengguna jauh dari malware.
  • Free software selalu menarik pengguna kepada OS yang free pula (misal, GNU/Linux).

7. Nonfree Software Seringnya Malware
Hukum alam yang lain yang sangat langka didengar masyarakat ialah proprietary software itu sering kalinya malware. Sebabnya jelas karena hak pengguna mengubah keadaan telah dihapus. Sebaliknya, free software itu pasti bukan malware karena hak pengguna mengubah keadaan ditunaikan. Hukum ini terbukti dengan ditemukannya (oleh FSF dan masyarakat) sekian banyak malware bawaan pada produk Microsoft [http://www.gnu.org/philosophy/malware-microsoft.html], Apple [https://www.gnu.org/philosophy/malware-apple.html], dan Adobe [https://www.gnu.org/proprietary/malware-adobe]. Tiga merek ini nonfree software yang sering dipakai masyarakat.

Selain itu bukti-bukti yang dikenal masyarakat awam pun jelas:

  • antivirus yang nonfree sering salah deteksi (dan pengguna tidak boleh mengubah keadaan itu)
  • antivirus yang nonfree sering menghapus data tanpa sepengetahuan pengguna (ini malware namanya, dan pengguna tidak boleh mengubah keadaan itu)
  • nonfree software berbayar yang didistribusikan secara “underground” sering disisipi trojan atau worm (dan pengguna tidak bisa mengetahui maupun mengubah keadaan itu)
  • Windows memaksa pengguna “upgrade” ke versi selanjutnya (dan pengguna tidak boleh mengubah keadaan itu)

Baca penjelasan FSF Proprietary Software Is Often Malware [http://www.gnu.org/philosophy/proprietary.html], Microsoft’s Software Is Malware [http://www.gnu.org/philosophy/malware-microsoft.html], baca juga Proprietary Insecurity [http://www.gnu.org/philosophy/proprietary-insecurity.html] dan Proprietary Sabotage [https://www.gnu.org/proprietary/proprietary-sabotage.html]. Jangan lupa baca bukti Proprietary Surveillance [https://www.gnu.org/proprietary/proprietary-surveillance.html] yang panjang.

8. Windows Sendiri Adalah Malware
Faktanya, Windows telah ditanami malware oleh pengembangnya sendiri. FSF menemukan fakta ini [http://www.gnu.org/philosophy/malware-microsoft.html] lebih dari sejenis, EFF pun mengecam keras [https://www.eff.org/id/deeplinks/2016/08/windows-10-microsoft-blatantly-disregards-user-choice-and-privacy-deep-dive] hal ini di Windows 10, dan ada sumber daya yang membuktikan backdoor jahat di berbagai versi Windows. Ditemukan juga ternyata backdoor di Windows sudah ditanam sejak 1999 [http://www.washingtonsblog.com/2013/06/microsoft-programmed-in-nsa-backdoor-in-windows-by-1999.html]. Maka jelas rusaklah keamanan Windows sedari awal. Tidak bisa dibandingkan keamanan GNU/Linux dengan OS yang sejak awal sudah malware.

Beberapa Takhayul
Lebih lengkapnya silakan baca artikel Takhayul Masa Kini. Namun harus saya sebut satu takhayul yang paling pendusta: “GNU/Linux aman karena penggunanya sedikit“. Ini kebohongan besar. Bantahannya begini:

  • GNU/Linux aman karena perilaku pengembangnya yang etis (ini yang terutama), software freedom dan alasan yang saya paparkan di atas.
  • Windows itu tidak aman karena perilaku pengembangnya yang menghapus software freedom dan dia sendiri malware, bukan karena populer.
  • Popularitas Windows hanya memperbesar kejelekannya secara sosial dan lebih merugikan orang banyak.
  • Windows bisa menjadi aman & kebal malware seperti GNU/Linux hanya jika pengembangnya mengubah Windows menjadi free software, software yang menghormati kebebasan pengguna & masyarakat.

Penutup Semoga apa yang saya paparkan singkat di sini berguna untuk seluruh masyarakat Indonesia. Semoga tidak tersisa lagi keraguan.

Sumber : https://restava.wordpress.com/2017/05/16/mengapa-gnulinux-kebal-malware/

Mengapa GNU/Linux Aman?

cover Mengapa GNU/Linux Aman?

Tulisan ini menjelaskan alasan mengapa GNU/Linux aman, dan keamanan GNU/Linux lebih tinggi dibanding Windows. Tulisan ini juga menampakkan alasan yang jelas disertai referensi kenapa Windows tidak aman. Kuncinya cukup 3 poin: kemerdekaan pengguna, hak atas source code, dan power dan control. Dengan 3 kunci ini Anda mampu memahami alasan konkretnya kenapa GNU/Linux aman dan kenapa Windows (nonfree software) mustahil aman.

1. Ketahui Software Freedom
Software freedom (kemerdekaan pengguna) ialah hak pengguna menolong diri sendiri dan menolong orang lain. Software freedom ini menentukan keamanan pengguna secara fundamental (sangat mendasar), yang jika hilang maka pasti hilang keamanan. Software yang memberikan pengguna freedom disebut free software, sedangkan yang mencabutnya disebut nonfree software. Sekarang bandingkan salah satu kriteria antara free software dan nonfree software:

  • Jika free software punya celah keamanan, apakah semua pengguna berhak memperbaiki celah & memublikasikan perbaikan ke orang lain? Jawaban: YA.
  • Jika nonfree software punya celah keamanan, apakah semua pengguna berhak memperbaiki celah & memublikasikan perbaikan ke orang lain? Jawaban: TIDAK.

Maka jika GNU/Linux punya celah, semua pengguna memegang hak memperbaikinya secara individual dan massal maka dari itu GNU/Linux aman; sebaliknya untuk Windows, semua pengguna dengan sengaja dihilangkan haknya memperbaiki secara individual & secara massal maka dari itu Windows tidak aman. Di langkah pertama ini sudah tampak jelas mana yang aman dan mana yang tidak.

2. Ketahui Source Code
Memperoleh source code adalah hak setiap pengguna. Jika Anda belum pernah mendengar ini, ketahuilah, setiap software memiliki 2 wujud yaitu source code dan binary code. Nonfree software populer seperti Windows dan Microsoft Office hanya memberi Anda binary code walau Anda beli mahal produknya, dan wujud source code dengan sengaja tidak diberikan ke pengguna (dan tidak diberikan walau Anda memintanya). Satu hal yang berhak Anda tahu ialah jika source code tidak ada maka merugikan secara fatal bagi pengguna.

  • Semua tipe malware (virus, ransomware) menyebar dalam bentuk binary code. Source code sengaja tidak diberikan oleh pembuatnya, dan karena itulah kriminalitas virus tidak bisa dicegah dan enkripsi ransomware tidak bisa dibuka. Cara kerja virus dan kunci enkripsi ransomware terletak di dalam source code.
  • Semua versi Windows dijual dalam bentuk binary code. Adapun source code Windows sejak 1985 sampai 2017 tidak pernah diberikan. Tanpa source code, maka pengguna-pengguna mahir tidak bisa mengaudit cara kerjanya, tidak bisa mengubahnya sesuai keinginan, tidak bisa mem-porting ke jenis komputer lain, tidak bisa memperbaiki celah, dan akhirnya pengguna akhir tidak bisa memperoleh perbaikan dari sesama pengguna. Hak-hak di atas semestinya milik pengguna yang dengan sengaja tidak diberikan dan umumnya masyarakat tidak tahu hak mereka ini.
  • Karena tidak ada source code, maka semua manusia tidak bisa mengetahui/memeriksa cara kerjanya, tidak bisa mempelajari isinya, sehingga tidak bisa membedakan mana benar mana salah, karena itu Windows diserang malware adalah wajar.

3. Ketahui “Power” dan “Control”
Apabila software freedom pengguna sudah dihapus, ditambah source code juga diblokir dari pengguna, maka pengembang berkuasa total atas pengguna. Jika pengguna tidak mengontrol software, maka software yang mengontrol pengguna. Jika demikian, berarti pengembang punya power takterbatas secara massal untuk berbuat apa pun terhadap semua pengguna (termasuk mencelakakannya). Inilah ketidakadilan nonfree software. Inilah yang terjadi apabila Anda menggunakan Windows, dan sama persis, apabila Anda diserang virus. Power (kekuasaan total) atas pengguna ini hanya terjadi jika Anda menggunakan nonfree software, power yang seharusnya tidak boleh dimiliki siapa pun.

Jika Anda menggunakan nonfree software seperti Windows, maka artinya Anda dengan sukarela menyerahkan power dan control secara total atas kehidupan perkomputeran Anda kepada pengembang.

4. Nonfree Software Mustahil Aman
Semua nonfree software menghilangkan software freedom, mayoritasnya menghapus hak pengguna atas source code, dan pasti semuanya menaruh pengguna di bawah power dan control penuh pengembangnya. Oleh karena itu semua jenis nonfree software tidak pernah aman terhadap 1 poin paling fatal: terhadap pengembangnya. Keamanan nonfree software telah mustahil pada poin paling mendasarnya, bagaimana bisa aman di poin yang lainnya. Jika Anda menggunakan nonfree software, walaupun itu antivirus, dia sudah tidak aman sejak awal.

6. Windows Itu Sendiri Malware
Malware (malicious software) adalah perangkat lunak yang diciptakan untuk menganiaya penggunanya. Nonfree software itu sering kalinya malware. Sekarang buktikanlah betapa fatalnya hak atas source code bagi pengguna: karena source code Windows sengaja tidak diberikan, maka tidak ada yang tahu bahwa Windows telah ditanami malware oleh Microsoft sejak dari pabriknya. Kasusnya baru ketahuan apabila sudah ada pengguna yang celaka. Di antara malware itu adalah spyware dan backdoor. Windows 10 yang katanya “aman”, pun ternyata mengandung malware yang melanggar keras privasi pengguna. Karena source code tidak ada, Anda tidak bisa menolak/mengubah kejelekannya, maka Anda tidak bisa percaya software tersebut. Referensinya disertai bukti-bukti dari Free Software Foundation (FSF), Electronic Fontier Foundation (EFF), dan beberapa sumber pengguna Windows sendiri.

7. Keamanan Free Software
Di mana letak keamanan free software? Atau, apa hakikatnya keamanan itu? Keamanan free software terletak pada bebasnya pengguna software secara total dari power pengembang. Intinya free software aman terhadap pengembangnya sendiri. Keamanan itu sendiri ialah kebebasan (freedom) dari apa pun perkara yang tidak diinginkan. Adapun ketidakamanan software hanyalah bersumber dari 1 perkara: dari pihak yang sengaja mencabut kebebasan pengguna. Lihat virus, inti dari semua kasusnya hanya 1: dirampasnya kebebasan pengguna, dan karena itulah disebut, tidak aman. Lihat web cracking: intinya ialah ada pihak yang sengaja merampas hak-hak pemilik web. Maka cara untuk mengambil alih power dan control ialah dari akarnya yaitu dengan menolak nonfree software dan menolak pemikirannya, maka gunakan free software. Free software itu aman karena penggunanya merdeka, setiap pengguna memegang hak menolong diri sendiri dan orang lain. Keamanan pengguna terjamin secara individual dan secara sosial.

8. Bagaimana Jika Free Software Ada Celahnya?
Jika Anda sudah paham pemaparan software freedom, source code, kemudian power & control di atas, maka mudah sekali Anda menjawab pertanyaan ini sekarang:

  • secara individual: setiap pengguna memegang hak mempelajari/memeriksa, hak mengubah/memperbaiki software. Source code diberikan maka pengguna bisa melakukan itu untuk diri-diri mereka sendiri.
  • secara sosial: semua pengguna memegang hak mempelajari/memeriksa secara massal, hak mengubah/memperbaiki software secara massal, dan hak untuk menyebarluaskan perbaikan kepada orang lain. Ini termasuk hak pengguna awam meminta bantuan perbaikan dari pengguna ahli (makanya disebut “sosial”). Source code diberikan maka pengguna bisa melakukan itu untuk semua orang.

Siklus perbaikan secara individual dan secara sosial ini terus menerus terjadi di komunitas free software sejak 1985 (berdirinya FSF) hingga kini 2017 di semua software di semua sistem operasi free yang ada oleh semua pengguna. Pengembang dan pengguna bisa saling bekerja sama, bahkan orang yang bukan pengguna bisa ikut tolong-menolong. Inilah kenapa free software aman dan selalu aman.

9. Mengapa GNU/Linux Aman?
Karena GNU/Linux adalah free software.

10. Bantahan Penting
Perlu diadakan bantahan yang sifatnya krusial terhadap sejumlah kesalahpahaman yang simpang siur di masyarakat kita. Kebanyakan salah paham datang dari orang awam yang tidak paham computer science dan tidak paham sejarah free software.

  • “Semua virus komputer di dunia diciptakan oleh Microsoft”: bantahannya, tidak ada bukti maka tidak bisa kita membuat tuduhan demikian.
  • “Semua virus diciptakan oleh vendor antivirus itu sendiri”: bantahan, walaupun Kaspersky atau Symantec atau semisalnya sama-sama nonfree software (sama nonfree-nya dengan malware), kita tidak punya bukti, maka tidak bisa kita membuat tuduhan demikian.
  • “Windows tidak aman karena populer”: bantahannya, ini takhayul. Windows tidak aman karena ia nonfree software, yaitu software yang dengan sengaja menghapus hak pengguna menolong diri sendiri & menolong orang lain. Popularitas Windows hanyalah makin memperbesar kejelekannya sendiri.
  • “GNU/Linux aman karena asing”: bantahannya, ini takhayul. GNU/Linux aman karena ia free software, penggunanya memegang power total atas kehidupan perkomputerannya sendiri. Lain derajatnya dengan Windows yang nonfree.
  • “GNU/Linux aman karena gratis”: bantahannya, ini takhayul. Gratis atau berbayar bukan penentu keamanan. Yang menentukan ialah software freedom.
  • “Yang perlu dimusuhi hanyalah malware (virus, trojan, dst.)!”: bantahannya, ini pengkaburan. Yang perlu dimusuhi bukan hanya malware, tetapi segala nonfree software, karena mereka memusuhi Anda. Contoh kasusnya: DRM itu adalah trojan, yang tanpa software freedom Anda tidak bakal tahu.

11. Musuh Kita Nonfree Software
Jika Anda beranggapan virus dan malware adalah musuh umat manusia, itu benar, dan katakan juga itu untuk nonfree software yang lain. Malware itu merugikan karena mereka nonfree software, maka musuh kita bukanlah hanya malware, tetapi musuh kita itu nonfree software. Ini sudah termasuk pemikiran di baliknya, pemikiran proprietary software. Tolak nonfree software, tolak pemikiran proprietary software. Dunia tanpa nonfree software berarti dunia tanpa malware & virus komputer.

Nonfree software meletakkan pengguna di bawah power pengembang secara total, dan itu tidak adil, maka semua pengguna punya hak menolak nonfree software. Jangan tertipu fiturnya, jangan tertipu promosinya, selamatkan kehidupan perkomputeran Anda dengan free software.

Penutup
Saya percaya pemaparan singkat saya tiada berat dipahami, in syaa Allah. Semoga ini meyakinkan Anda bahwa GNU/Linux aman dan yakin juga bahwa Windows mustahil aman. Windows tidak aman, dan Windows tidak akan pernah aman, selama dia masih nonfree software. Jika sudah demikian, kita tidak akan lagi merekomendasikan Windows kepada orang lain dan akan punya sikap yang tegas terhadap semua nonfree software. Selamat menggunakan GNU/Linux.

Sumber : https://restava.wordpress.com/2017/03/18/mengapa-gnulinux-aman/

Ajakan Meninggalkan Windows Bukanlah Fanatisisme

cover  Ajakan Meninggalkan Windows Bukanlah Fanatisisme

Fanatisisme (Inggris: fanaticism, fanatic, fanatical) adalah tetap mencintai kesalahan ketika telah jelas kebenaran. Namun ajakan untuk meninggalkan Windows dengan argumentasi yang valid, bukanlah fanatisisme. Ini sama persis dengan ajakan meninggalkan dan menolak virus komputer, bukanlah fanatisisme. Maka sama juga ajakan meninggalkan dan menolak semua nonfree software, bukanlah fanatisisme. Tulisan ini mengajak Anda membersihkan paradigma keliru yang menuding semua bentuk ajakan migrasi dari Windows ke GNU/Linux sebagai fanatisisme sehingga Anda dapat melihat jelas apa masalahnya dan jelas apa solusinya.

1) Menolak Nonfree Software Bukan Kejahatan
Nonfree software adalah apa saja software yang mengendalikan penggunanya dan produsennya mengendalikan pengguna melalui software. Penggambaran ini persis sama dengan beras nonfree atau air nonfree, yaitu beras yang ketika Anda sudah membelinya, Anda dilarang memasaknya dan dilarang menjualnya ke orang lain; sesama konsumen dilarang saling membagi berasnya; intinya produsen memegang kuasa mutlak tak terbatas atas produk itu walaupun produk sudah dibeli konsumen.

Sayangnya beras atau air nonfree itu tidak ada, tetapi dunia software terbalik, mayoritas software di dunia ini adalah nonfree. Karena itu terjadi dua hal, yakni, free software dibuat dan nonfree software ditolak. Barang siapa mengetahui beras nonfree, dia akan menolaknya; barang siapa mengetahui software yang nonfree, dia juga akan menolaknya. Menolak nonfree software bukan kejahatan, migrasi dari nonfree ke free bukan kejahatan.

2) Kejahatan Nonfree Software
Di dunia nyata, pembeli yang sudah membeli beras, air, pensil, pulpen, atau mobil, tidak pernah melanggar peraturan apa pun dari produsennya, karena aturan itu tidak ada. Itulah freedom. Jadi bila pembeli beras memasak beras (modifikasi) atau menjual beras (distribusi) maka dia tidak melanggar aturan penjual sama sekali. Karena beras itu sudah free (bebas) dari kuasa penjualnya. Inilah freedom. Freedom ini adalah konsep kuno. Semua orang menganut konsep ini.

Namun di dunia software, sebaliknya, mayoritas pembeli software selalu jatuh kepada 1 dari 2 macam kejahatan:

  • mereka turuti lisensinya, maka mereka antisosial terhadap masyarakat
  • mereka langgar lisensinya, maka mereka antisosial terhadap produsen

Nonfree software adalah antisosial. Lisensi (peraturan perjanjian) dari nonfree software secara umum bermakna “saya pengguna sudah berjanji untuk tidak menolong semua orang tanpa kecuali selama-lamanya” yang menghancurkan semua bentuk gotong royong di masyarakat dan di saat yang sama menghancurkan semua keamanan individual dan sosial. Nonfree software meletakkan pengguna selalu pada posisi tidak berdaya, terpaksa mengatakan “apa boleh buat”, demi mewujudkan kuasa mutlak tanpa batas bagi produsennya. Itulah nonfree software.

3) Lisensi Nonfree Software Mustahil Ditaati
Pengguna nonfree software sehebat apa pun komitmennya untuk legal, sangat sulit bagi dia untuk menuruti lisensi sebuah nonfree software. Karena semua orang menganut konsep kuno bernama software freedom, sehingga dia pikir ketika dia beli software, dia bebas. Dia pikir jika dia menerima pemberian software dari pengguna lain, dia bebas. Namun kenyataannya terbalik. Lisensi nonfree software justru bertitik berat kepada larangan-larangan terhadap pengguna yang sangat banyak dan berat, dan yang dilarang oleh lisensi itu ialah software freedom sepenuhnya, oleh karena itu mayoritas pengguna jatuh pada pelanggaran lisensi jika mereka menggunakan nonfree software. Produsen nonfree software memang sengaja menetapkan batasan itu, dan mereka juga sengaja menggugat pengguna yang melanggar lisensinya. Kesimpulannya, lisensi nonfree software mustahil ditaati sekaligus mustahil dilanggar.

4) Windows Itu Nonfree Software
Sistem operasi Windows yang digunakan oleh hampir semua pengguna desktop adalah nonfree software. Artinya sifat-sifatnya sama dengan gambaran nonfree software di atas. Windows mencabut software freedom dari semua pengguna. Lisensi Windows sangat sulit/mustahil ditaati siapa pun sekuat apa pun komitmennya. Perbuatan melanggar lisensi Windows berarti kejahatan terhadap Microsoft, dan itu tidak adil, itu perbuatan salah. Sebaliknya, perbuatan menaati lisensi Windows berarti kejahatan terhadap masyarakat, dan itu juga tidak adil, dan itu juga perbuatan salah. Ingat bahwa menyetujui lisensi nonfree software berarti “saya telah berjanji tidak akan pernah menolong semua orang tanpa kecuali selama-lamanya”. Jika semua orang berjanjinya seperti itu maka rusak tatanan sosial masyarakat yang ada.

5) Virus Juga Nonfree Software
Sebagai pengingat tambahan, perlu diketahui betul-betul bahwa semua virus dan malware apa saja (trojan, worm, backdoor, sasser, adware, spyware, jail, drm, dll.) adalah nonfree software. Mereka semuanya nonfree software. Gambarannya masih sama persis: software mengendalikan pengguna (bukan sebaliknya), lalu produsen mengendalikan pengguna itu melalui software. Virus adalah software, malware juga software, dan mereka semuanya nonfree. Windows ditarget produsen virus karena baik Windows maupun virus, dua-duanya nonfree software. Antivirus yang tersedia pun hampir semuanya nonfree pula. Jika pengguna sudah tidak berdaya maka pihak lain yang punya daya bisa menganiayanya. Ini bencana. Jumlah pengguna Windows yang besar justru memperbesar bencana itu dan membantu menyebarkannya.

6) Perlunya Peringatan
Peringatan datangnya bencana yang akan terjadi itu sangat penting bagi semua orang. Pelakunya tidak bisa dituduh fanatik. Peringatan atas bencana yang sedang terjadi juga sangat penting, justru lebih penting lagi, dan pelakunya pun tidak bisa dituduh fanatik. Maka seharusnya peringatan atas bahaya nonfree software yang sudah-sedang-akan terjadi, dan sudah terbukti secara pengalaman selama lebih dari 40 tahun di dunia software (sejak 1970-an), itu bukan fanatisisme dan pelakunya bukan fanatik. Jika saya diam, Anda juga diam, semua orang diam, kapan orang yang tidak tahu mendapatkan ilmu? Jika semua orang diam, kapan masalah bernama nonfree software bisa diselesaikan?

7) Konsekuensi Memakai Windows
Konsekuensi menginstal Windows ialah mematuhi lisensinya. Karena pengguna harus menekan tombol “Accept” (Terima) pada halaman lisensi untuk bisa menginstal Windows. Tombol “Accept” di situ adalah pernyataan perjanjian dari pengguna kepada produsen bahwa “saya berjanji saya tidak akan melanggar”. Memakai nonfree software apa pun berarti melakukan perjanjian dengan produsen masing-masing. Konsekuensi ini merembet dalam 2 sisi, yaitu sisi nonteknis dan sisi teknis. Sisi nonteknis adalah software freedom yaitu 2 pilihan kejahatan:

  • Jika Anda mematuhi lisensinya, Anda mengatakan “saya sudah janji saya tidak akan membantu Anda semuanya” kepada semua orang. Ini salah.
  • Jika Anda melanggar lisensinya, Anda mengatakan “saya melanggar janji saya kepada Anda” kepada Microsoft. Ini juga salah.

Sementara konsekuensi teknis jumlah dan ragamnya jauh lebih banyak, dengan beberapa yang terpenting disebutkan:

  • Jika Anda menggunakan Windows, artinya suatu pihak tertentu (Microsoft) mengontrol seluruh kehidupan komputasi Anda di komputer Anda sendiri. Mestinya kontrol itu Anda yang memegangnya.
  • Jika Anda menggunakan Windows, lalu virus dan malware menyerang Windows Anda, itu wajar, karena mereka semuanya nonfree software. Nonfree software selalu menarik pengguna kepada nonfree software yang lain.
  • Jika Anda menggunakan Windows, privasi Anda dan privasi data Anda tidak dikuasai oleh Anda, tetapi oleh Microsoft dan/atau pihak lain. Jika pembeli beras dilarang membuka karungnya, maka tidak ada yang bisa memeriksa adanya racun di dalamnya.

8) Tidak Ada Alasan Menggunakan Nonfree Software
Semua orang menolak virus komputer, bahkan mengutuk dan ingin menghapuskannya dari muka dunia. Semua orang saling mengingatkan untuk memusuhi, menolak, dan menghapuskan virus dan malware. Tidak ada alasan menginstal dan menggunakan virus. Virus komputer itu nonfree software, Windows juga nonfree software. Cepat atau lambat yang namanya pengguna nonfree software akan merasakan kuasa dan kontrol yang jahat terhadapnya yang dia tidak pernah meridhainya. Jalan bagi semua virus komputer (pengecualian kecil sekali beberapa) untuk menganiaya Anda adalah melalui Windows. Maka tolak virus, tolak malware, tolak nonfree software, tolak Windows. Saling ingatkan teman Anda untuk juga memusuhi, menolak, dan menghapuskan Windows. Migrasilah ke free software.

9) Ajakan untuk Meninggalkan Windows
Tinjau kembali ajakan meninggalkan Windows. Lihat kepada pembicaranya. Apakah dia menjelaskan dengan fakta dan argumentasi yang valid? Apakah dia sudah menjelaskan software freedom sampai Anda mengerti? Jika ya, dan itulah kenyataannya, maka ajakan untuk meninggalkan Windows adalah valid. Ajakan ini bukan fanatisisme, bukan masalah merek, tetapi masalah kebebasan pengguna yang disebut software freedom.

Anda sudah mengetahui bahwa software freedom adalah konsep kuno, Anda dan semua orang menganutnya, dan semua orang tidak mau freedom itu dirampas. Maka komunitas free software menjelaskan ajakan untuk meninggalkan Windows, dan Anda punya hak untuk mempertimbangkannya serius, dan Anda pun punya hak untuk menjelaskan ulang ajakan ini kepada orang lain. Anda punya hak untuk migrasi ke free software kapan pun Anda mau.

Sumber : https://restava.wordpress.com/2017/01/08/ajakan-meninggalkan-windows-bukanlah-fanatisisme/

Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 [https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/].

Free Software Bukan “Alternatif”, Juga Bukan “Pilihan Utama”, Tetapi Solusi Tunggal

cover  Free Software Bukan “Alternatif”, Juga Bukan “Pilihan Utama”, Tetapi Solusi Tunggal

Sebagian orang menyatakan dan mengulang-ulang pernyataan yang sama bahwa “free software adalah alternatif” atau “free software adalah pilihan utama” dengan sering kalinya mereka ganti nama free software dengan nama “open source”. Mereka tidak pernah satu kali pun membandingkan secara jelas antara free software dan nonfree software, bahwa nonfree adalah masalah dan free solusinya satu-satunya, dan di situ poin kritik saya atas pernyataan-pernyataan mereka. Saya akan jelaskan di sini dengan analogi beras dan analogi sepeda motor.

Analogi Beras
Ketika Anda membeli beras satu karung dari sebuah warung, siapa yang berhak atas 4 hal ini?

  • Memakannya
  • membuka karungnya, melihat isinya
  • memasaknya, membersihkannya, mengubah bentuknya
  • menjualnya, meminjamkannya, menghibahkannya ke orang lain

Apakah itu Anda, atau warungnya? Jika jawabannya “Anda”, maka Anda benar dan beras itu namanya beras yang free (bebas dari warungnya). Jika jawabannya “warungnya”, maka berarti Anda sebagai pembeli beras dilarang dalam 4 hal tersebut dan itulah beras yang nonfree (tidak bebas, masih dikendalikan oleh warungnya, alias proprietary).

Apakah Anda mau membeli sekarung beras yang nonfree? Jawabannya jelas TIDAK, baik teori maupun praktik lapangannya.

Analogi Sepeda Motor
Ketika Anda membeli sepeda motor satu unit dari sebuah pabrik, siapa yang berhak atas 4 hal ini?

  • mengemudikannya ke mana pun Anda mau
  • membuka mesinnya, melihat isinya
  • memodifikasinya, memperbaiki mesinnya
  • menjualnya, meminjamkannya, menghibahkannya ke orang lain

Apakah itu Anda, atau pabriknya? Jika jawabannya “Anda”, maka Anda benar dan itulah yang namanya sepeda motor free (bebas dari pabriknya). Jika jawabannya “pabriknya”, maka berarti Anda sebagai pembeli sepeda motor dilarang dalam 4 hal tersebut dan itulah sepeda motor yang nonfree (tidak bebas, masih dikendalikan oleh pabriknya, alias proprietary).

Apakah Anda mau membeli sepeda motor yang nonfree? Jawabannya jelas TIDAK, baik teori maupun praktik lapangannya.

Perbedaan Antara Free dan Nonfree
Free software berarti kedua tangan pengguna tidak diborgol oleh developernya. Nonfree software sebaliknya. Setiap orang yang tahu kedua tangannya diborgol pasti menolak untuk diborgol, dan jika ini sudah telanjur, maka orang yang diborgol akan selalu mencari jalan untuk melepaskan borgol itu. Perbandingan bebas dan diborgol ini jelas dua kondisi yang tidak bisa dibandingkan. Jelas bahwa borgol adalah masalah dan bebas adalah solusinya. Maka nonfree software adalah masalah dan free software solusinya. Maka jelas setiap pengguna seharusnya menolak nonfree software dan berpindah ke free software. Karena di dunia ini hanya ada dua macam software, free dan nonfree, tidak ada jenis ketiga.

Bukan Memberantas “Pembajakan”
Nonfree software mengkriminalkan pengguna. Pemikiran mereka ialah memandang semua pengguna sebagai kriminil kecuali yang tunduk taat lisensi mereka. Nonfree software menuduh pengguna dengan sebutan kotor “pembajak” (Inggris: pirate) apabila pengguna menolong diri sendiri dan orang lain. Tidak ada ceritanya pengguna software masuk penjara kecuali itu pasti karena nonfree software. Tuduhan “pembajak” adalah propaganda pengedar nonfree software agar semua orang menyangka “tidak ada solusi kecuali nonfree”. Nonfree software tidak menghormati pengguna. Oleh karena itu nonfree software sangat tidak layak dipakai.

Namun free software sebaliknya, justru memberi pengguna kebebasannya, dan tidak pernah menuduh pengguna “pembajak”. Free software mengizinkan pengguna menolong diri sendiri dan orang lain, dan inilah yang disebut software freedom, yaitu hak yang empat: use-study-modify-share. Free software tidak mengkriminalkan pengguna.

Oleh karena itu, Free Software Movement bukan tentang memberantas “pembajakan” sama sekali. Pengembangan GNU/Linux bukanlah “pemberantasan pembajakan”. Mendukung “pemberantasan pembajakan” itu sama saja membantu tersebarnya Windows, Microsoft Office, dan nonfree software lainnya (termasuk virus); padahal merekalah masalah yang mau dihapuskan. Yang benar, Free Software Movement itu memberantas nonfree software. Karena nonfree software adalah masalah yang harus diselesaikan.

Bahayanya Nonfree Software
Bayangkan jika beras nonfree beredar luas di masyarakat dan didukung sebagai mayoritas. Apa yang terjadi pada masyarakat Anda karenanya? Di antara bahaya yang muncul (dan sayangnya sudah terjadi di nonfree software) adalah warung beras mengendalikan pembelinya dan memberi kesempatan warung lain untuk menganiaya pembeli (diborgolnya pembeli berarti pihak lain punya kesempatan untuk ikut mencelakakannya), tidak ada lagi kegiatan sosial berbagi nasi (karena menghibahkannya dilarang), tidak ada lagi juru masak (karena memasak dilarang), dan masyarakat akan saling tuduh “kamu maling pencuri pembajak” satu sama lain.

Bayangkan jika sepeda motor nonfree beredar luas di masyarakat seperti beras nonfree. Apa yang terjadi pada masyarakat? Di antara bahaya yang mungkin terjadi adalah pabrik sepeda menguasai pembelinya dan memberi kesempatan pihak lain mencelakakannya (diborgolnya pengendara berarti pihak lain punya kesempatan membegalnya), pengendara sepeda motor tidak bisa menjual sepedanya sendiri (karena menjualnya dilarang), pengendara tidak bisa menghindar dari bahaya di jalanan (karena mengemudikannya sesuai kehendak pengguna dilarang), pengendara tidak bisa menghindari perampok jalanan, pengendara mengalami kecelakaan (karena memperbaiki mesinnya dilarang), tidak ada bengkel (karena memodifikasinya dilarang), pengendara tidak bisa meminjamkan sepedanya kepada orang lain (karena meminjamkannya dilarang), dan masyarakat saling tuduh “kamu maling pencuri pembajak” satu sama lain.

Nonfree software menindas Anda. Bahaya-bahaya di atas sudah cukup menjelaskan konsep pemborgolan dari nonfree software dan cukup bagi pengguna untuk menolaknya. Solusi atas dua penggambaran di atas adalah pengguna beralih dari beras nonfree ke beras free, dan dari sepeda nonfree ke sepeda free. Sama dengan software, beralihlah dari nonfree ke free software.

Ciri Nonfree Software
Nonfree software mengendalikan pengguna, dan developernya mengendalikan software tersebut, maka developer mengendalikan pengguna melalui software-nya. Inilah ciri dari semua jenis nonfree software. Contohnya bisa dilihat pada analogi beras nonfree dan analogi sepeda motor nonfree.

Adapun ciri free software adalah kebalikan langsung dari ciri di atas: pengguna mengendalikan software, dan bukan sebaliknya, dan developer software tersebut tidak bisa mengendalikan pengguna melalui software-nya. Contohnya bisa dilihat pada analogi beras free dan analogi sepeda motor free.

Ketidakcocokan Istilah “Alternatif”
Free software bukan alternatif, free software adalah solusi, karena nonfree software adalah masalahnya. Nonfree software bukan solusi karena dia mencabut hak-hak yang empat dari semua penggunanya. Istilah “alternatif” hanya bisa dipakai secara terbatas untuk menjelaskan perbandingan fitur, bukan untuk menciptakan pandangan baru yang menghukumi free software sebagai nomor 2 setelah nonfree software.

Jika Anda tahu ada dua warung masing-masing menjual beras yang free dan beras yang nonfree, maka Anda langsung membeli dari warung beras yang free. Anda tidak perlu berpikir sedikit pun untuk menolak beras yang tidak boleh dimakan pembelinya sendiri. Apalagi jika warung beras nonfree tegas memberi tombol “Decline” (Tolak) pada setiap karung berasnya.

Jika Anda tahu ada dua pabrik masing-masing menjual sepeda motor yang free dan yang nonfree, maka Anda langsung membeli dari pabrik sepeda motor yang free. Anda tidak perlu berpikir dua kali untuk menolak sepeda motor yang penggunanya tidak boleh memperbaiki mesinnya sendiri. Apalagi jika pabriknya tegas memberi tombol “Decline” (Tolak) pada setiap produknya.

Ketidakcocokan Istilah “Pilihan Utama”
Free software adalah solusi, dan satu-satunya, tidak ada pilihan kedua. Karena di dunia ini jenis software itu jika bukan nonfree software, maka pasti dia free software, tidak ada jenis ketiga. Menghukumi free software sebagai pilihan utama berarti menempatkan jenis software lain sebagai pilihan kedua setelah free software, dan ini menciptakan masalah baru, karena nonfree software itu sendiri masalah. Menghukumi nonfree sebagai pilihan kedua berarti menerima nonfree sebagai solusi, bukan menolak nonfree karena nonfree adalah masalah.

Perlu diketahui juga bahwa semua jenis virus dan malware (trojan, worm, spyware, adware, jail, backdoor, ransomware, drm, dll.) adalah software dan mereka semua nonfree. Orang yang menganggap “nonfree software sebagai pilihan kedua” harus menyatakan bahwa menginstal virus dan malware sebagai “pilihan”, bukan sebagai “masalah”. Namun orang seperti itu tidak bisa berkata apa pun karena dia tahu bahwa virus dan malware adalah masalah sosial dan bahkan kriminal yang harus dihapus dari muka bumi ini. Virus dan malware sama sekali bukan pilihan, mereka semua adalah nonfree, dan karena itu mereka semua adalah masalah. Free software adalah solusi atas masalah ini satu-satunya, tidak ada pilihan lain, dan mereka mesti menerimanya.

Pengguna dikendalikan oleh software, dan developer mengendalikan software tersebut, maka developer mengendalikan pengguna melalui software, inilah ciri satu-satunya dari semua jenis nonfree software, dan inilah hakikat yang terjadi persis sama pada semua kasus virus dan malware. Inilah alasannya virus dan malware tergolong nonfree software.

Kesimpulan
Free software bukan “alternatif”, free software bukan “pilihan utama”, tetapi free software adalah solusi tunggal atas masalah sosial bernama nonfree software. Tidak ada solusi lain selain free software karena software di dunia ini hanya ada 2 macam, jika bukan nonfree maka dia pasti free. Istilah “alternatif” seyogianya lebih ketat lagi digunakan agar tidak menciptakan pendidikan bahwa nonfree = solusi, dan istilah “pilihan utama” seyogianya dihapus, tidak lagi dimunculkan, dan masyarakat diberi tahu di mana letak ketidakcocokannya.

Saran
Setiap masyarakat hendaknya dididik untuk mengenal software freedom, yang pada hakikatnya sama saja dengan membeli beras atau membeli sepeda motor di kehidupan nyata pada normalnya, yang freedom milik pengguna itu dicabut dan dihapus oleh nonfree software. Setiap masyarakat hendaknya diberi pengajaran yang betul mengenai free software, dan diajarkan yang betul di mana salahnya nonfree software, bukan malah ditipu atau dibiarkan ditipu sampai salah mengira bahwa “nonfree = solusi”. Seyogianya free software diajarkan sebagai free software, sebagaimana nama Indonesia adalah Indonesia, bukan free software sebagai “open source”, karena nama berbeda mengantarkan makna yang berbeda pula. Saya dengan tegas menyarankan setiap orang yang sepakat dengan fakta free software dan menolak nonfree software untuk membaca referensi Free Software Foundation pertama-tama dimulai dari sini Free Software Is Even More Important Now [https://www.gnu.org/philosophy/free-software-even-more-important.html] dan Why “Free Software” is Better Than “Open Source” [https://www.gnu.org/philosophy/free-software-for-freedom.html] dan saya ajak setiap orang untuk membaca esai-esai http://www.gnu.org yang lainnya.

Sumber : https://restava.wordpress.com/2016/12/23/free-software-bukan-alternatif-juga-bukan-pilihan-utama-tetapi-solusi-tunggal/

Format Dokumen Anti Sosial

cover Format Dokumen Anti Sosial

Nonfree (prorpietary) software itu software yang mengajarkan penggunanya menjadi antisosial. Artinya, surat perjanjiannya (lisensinya: https://notabug.org/mignu/gnu-indonesia/wiki/Lisensi+Windows+vs+Lisensi+GNU+Linux) mempersyaratkan Anda untuk tidak menolong semua orang. Apabila nonfree software tersebut memiliki format dokumen, maka format dokumen itu juga antisosial, sebab dia perantara menuju software yang antisosial. Format dokumen antisosial itulah yang mengunci orang sehingga gagal beralih ke GNU/Linux dan Free Software. Itu rahasianya. Format dokumen Microsoft Office adalah antisosial. Format Photoshop dan CorelDRAW juga antisosial. Format dokumen antisosial “memborgol” penggunanya agar kecanduan software tersebut dan tidak bisa beralih ke software yang lain. Ini adalah suatu keburukan. Format dokumen antisosial disebut antisosial karena dia memperbanyak dan menyebarluaskan keburukan itu: memaksa orang lain untuk berbuat antisosial yang sama. Ini anti-masyarakat. Anda sepatutnya tidak berpartisipasi dalam penyebaran format dokumen antisosial sedikit pun.

Seandainya format dokumen itu free (yakni, tidak antisosial, tidak “memborgol”), mestinya dia akan mendukung kompatibilitas dengan masyarakat dan software lain. Format yang free (bebas dari antisosial) mengizinkan semua orang untuk saling bertukar dokumen tanpa mengorbankan haknya sebagai pengguna (tidak dipaksa memakai proprietary software; https://notabug.org/mignu/gnu-indonesia/wiki/Perangkat+Lunak+Tidak+Bebas). Contoh format yang free bukanlah formatnya Microsoft Office, atau Photoshop, atau CorelDRAW; melainkan formatnya LibreOffice (ODT, ODS, ODP) [https://www.fsf.org/campaigns/opendocument/] dan formatnya GIMP (XCF) dan formatnya Inkscape (SVG). Memasyarakatkan format-format ini akan juga memasyarakatkan software-nya yang merupakan free software dan itu kebaikan. Contoh lain yang sangat bagus adalah PDF yang sebenarnya berasal dari pengembang Photoshop. Contoh lain lagi adalah EPS, format gambar vektor terpopuler, itu juga dari Adobe dan format ini free. Anehnya PDF dan EPS itu format yang free, tapi PSD tidak. Saya merekomendasikan format-format free ini kepada Anda semua.

Jadi saya harap Anda semuanya bersemangat memakai format-format dokumen yang free dan mengakhiri keberadaan format dokumen antisosial. Akhirilah kebiasaan menyimpan dokumen sebagai DOCX, XLSX, PPTX, PSD, dan CDR. Mulailah kebiasaan baik dan menolong orang lain yaitu simpan dokumen sebagai ODT, ODS, ODP, XCF, dan SVG. Bila Anda ingin mencetak, gunakan PDF. Bila Anda butuh EPS, gunakan EPS. Begitu. Semoga bermanfaat.

Tulisan ini berlisensi CC BY-SA 3.0. [https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/]

Sumber : https://restava.wordpress.com/2018/11/10/format-dokumen-antisosial/

Free Software dan Keputusan

cover Free Software dan Keputusan

Kepada orang yang tidak mementingkan pembedaan antara nonfree dan free software saya sampaikan fakta status lisensi software menentukan keputusan pengguna. Apabila status lisensinya free software, maka keputusan pengguna di tangan pengguna. Namun sebaliknya, apabila status lisensinya nonfree software, maka keputusan pengguna di tangan pengembang. Nonfree software menghapus hak pengguna memutuskan menolong diri sendiri dan menolong orang lain, tetapi sebaliknya, free software menunaikan total hak-hak itu. Perbedaan yang sangat jauh ini berhak diketahui semua pengguna software agar mereka tidak tertipu dan tidak dirugikan.

1. Lihat Nonfree Software
Ketika ada tetangga Anda meminta salinan CD Windows, siapa yang berhak memutuskan membantu tetangga, Anda atau Microsoft? Nonfree software menjawab “Anda tidak berhak, yang berhak hanya pengembang”. Ini yang saya maksud nonfre software memengaruhi keputusan pengguna, menihilkan secara total hak pengguna membuat keputusan.

2. Lihat Free Software
Ketika ada tetangga Anda meminta salinan CD GNU/Linux, siapa yang berhak memutuskan membantu tetangga, Anda atau pengembangnya? Free software menjawab “Anda berhak, sebagaimana pengembang juga berhak”. Ini juga yang saya maksud free software memberi pengguna kebebasan, memberikan total hak pengguna membuat keputusan.

3. Diri Sendiri dan Orang Lain
Bedanya nonfree dari free software itu saling bertolak belakang. Nonfree software menghilangkan dari pengguna hak menolong diri sendiri dan hak menolong orang lain. Ini terjadi karena hak pengguna membuat keputusan sudah dicabut. Di komunitas nonfree software, yang berhak membuat keputusan hanyalah pengembang secara tunggal.

Sebaliknya, free software justru memberikan total hak pengguna menolong diri sendiri dan hak menolong orang lain. Ini terjadi karena hak pengguna membuat keputusan sudah ditunaikan. Di komunitas free software, sebaliknya juga, semua orang adalah pengguna dan pengembang termasuk pengguna, maka semua berhak membuat keputusan terhadap software masing-masing.

4. Contoh Detail
Apa itu menolong diri sendiri? Contoh di kehidupan nyata ialah menggunakan software tanpa batas waktu, dan mengubah software sesuai keinginan. Di dalam doktrin nonfree software, kedua hak pengguna di atas dianggap perbuatan kriminal, dituduh sebagai “pembajakan”. Sebaliknya di komunitas free software, kedua hak di atas adalah hak setiap pengguna.

Apa itu menolong orang lain? Contoh di kehidupan nyata ialah mendistribusikan salinan software, dan mendistribusikan ubahan software kepada orang lain. Bagi nonfree software, kedua hak pengguna di atas juga kriminal, dan dituduh secara jahat “pembajakan”. Sebaliknya bagi free software, kedua hak di atas adalah hak setiap pengguna.

Ringkaslah contoh detail ini dalam 4 kata kunci yang sering saya sebut: USE-STUDY-MODIFY-SHARE (Indonesia: PAKAI-PELAJARI-MODIFIKASI-BAGIKAN).

5. Keputusan dan Ketersinambungan
Masalah nonfree software selain menghapuskan keputusan semua pengguna, adalah menghapus hak pengguna untuk memperbaiki keputusannya. Masalah ini berasal dari hukum alam: nonfree software selalu menyeret penggunanya kepada nonfree software yang lain. Maka contoh nyatanya ialah sekali suatu pihak memutuskan memakai nonfree software, maka mustahil atau sulit baginya beralih dari nonfree software itu ke free software. Ini terbukti di semua sisi kehidupan, termasuk sudah terjadi di pemerintahan, perusahaan, UKM, militer, kantor-kantor, pabrik, sekolah, perguruan tinggi, badan riset, organisasi, yayasan, perorangan, dan apa pun. Melihat bahaya nonfree software, maka ketersinambungan bahaya ini lebih berbahaya lagi. Keputusan pertama sangat menentukan keputusan-keputusan berikutnya.

6. Keputusan dan Malware
Virus dan seluruh bangsa malware adalah nonfree software. Tidak ada mereka free software. Apabila pengguna memutuskan memakai nonfree software, maka mereka tidak mampu mengelak dari semua bangsa malware. Karena keputusan pengguna sudah hilang, pengembang sadar mereka berkuasa total atas pengguna, dan mereka sangat tergoda menimpakan kecelakaan dalam bentuk apa pun kepada pengguna (malware = malicious software = software celaka). Ini kenapa pengguna Windows selalu dizalimi oleh malware, karena pertama Windows itu sendiri sudah malware, dan di luar itu pengembang malware menarget Windows karena sama-sama nonfree software. Arti dari nonfree software itu pengguna tidak berdaya, pengguna tidak berhak menghentikan/memperbaiki perilaku software yang tidak dimaukannya, dan software itu mengontrol penggunanya. Oleh karena itu sering kalinya nonfree software adalah malware.

7. Keputusan dan Ketidakberdayaan
Hak membuat keputusan begitu esensialnya karena apabila hilang, maka pengguna jadi tidak berdaya. Jika Indonesia pernah dijajah Belanda 300 tahun lamanya, itu artinya, Belanda dengan sengaja merampas hak orang Indonesia menolong diri sendiri dan menolong orang lain (termasuk di dalamnya hak menolak perilaku penjajah). Itulah ketidakberdayaan. Nonfree software dengan sengaja menghilangkan hak pengguna menolong diri sendiri dan hak menolong orang lain, bahkan secara sadar mengkriminalkan pengguna yang melakukannya. Itulah ketidakberdayaan pengguna. Sebab ketidakberdayaan itu ialah hilangnya hak menolong diri sendiri dan hak menolong orang lain.

8. Keputusan dan Kerugian
Menggunakan nonfree software hanyalah merugikan diri-diri Anda sendiri. Selama software itu nonfree, tidak diubah oleh pengembangnya jadi free software, maka kerugian pengguna tidak berubah dan hak-hak pengguna tetap hilang. Dengan nonfree software Anda kehilangan hak menolong diri sendiri dan hak menolong orang lain, dan pengembangnya sengaja menghilangkan hak-hak Anda tersebut. Pengembang nonfree software boleh beralasan apa pun, tetapi kebenaran tidak pernah berubah.

9. Anda Berhak Menolak Nonfree Software
Sebelum Anda membuat keputusan, Anda berhak menolak nonfree software. Nonfree software merugikan Anda maka pantas ditolak. Tekan tombol “Decline” ketika Anda mau menginstal Windows dan nonfree software semisalnya, itu hak Anda, ketika Anda mengambilnya Anda bukanlah kriminal. Itu hasil akal sehat yang bersih. Pun ketika Anda telanjur membuat keputusan, hapus nonfree software dan ajak orang lain menghapuskannya, itu hak Anda juga. Anda berhak membuat keputusan, karena komputer Anda ialah komputasi Anda.

10. Free Software Menghormati Kebebasan Pengguna
Free software memberi pengguna hak menolong diri sendiri (USE, STUDY, MODIFY) dan hak menolong orang lain (MODIFY, SHARE). Maka free software menunaikan hak-hak pengguna, yang hak itu dimusnahkan oleh nonfree software. Inilah yang bertahun-tahun diedukasikan oleh Free Software Foundation dengan kebebasan pengguna (user’s freedom). Selalu perhatikan kebebasan pengguna apakah diberikan oleh software atau tidak. Jika tidak, Anda berhak menolak dan ajari orang lain menolaknya. Gunakanlah software yang menghormati kebebasan pengguna, yaitu free software.

Penutup
Dengan tulisan ini saya percaya Anda mampu melihat seriusnya masalah ini dengan akurat. Nonfree software adalah masalah sosial dan free software solusinya. Pembedaan antara free software dan nonfree software itu patut dan hak semua orang. Penolakan atas nonfree software adalah terpuji dan patut dianjurkan secara massal sedini mungkin.

Sumber : https://restava.wordpress.com/2017/03/16/free-software-dan-keputusan/

Ilusi Proprietary

cover Ilusi Proprietary

Proprietary software adalah masalah sosial. Saya meyakini itu tanpa keraguan dengan bukti nyatanya ransomware. Namun sebelum ransomware pun, saya telah yakin sebab saya mengalaminya, proprietary selalu menciptakan masalah sosial. Dan ilusi proprietary software yang saya ajukan di sini ialah ketidaksadaran pengguna menyalahkan orang yang tidak bersalah. Semoga tulisan ini mencerahkan orang banyak.

Tulisan ini satu serial dengan Nonfree Software Merugikan, Bukan Salah GNU/Linux, Free Software & Keputusan, Takhayul Proprietary, dan Berantas Ransomware 2017.

Ketika Microsoft Office tidak bisa diinstal di GNU/Linux…
Sering terjadi di forum, pengguna awam menyalahkan GNU/Linux dan komunitasnya. Apa hakikat perbuatan ini?

Ketika Adobe Photoshop tidak bisa diinstal di GNU/Linux…
Sering juga dengan itu pengguna menilai negatif GNU/Linux dan komunitasnya. Apa hakikatnya?

Ketika driver dan firmware NDIVIA dan ATI jelek fungsinya di GNU/Linux…
Sering pengguna awam menyalahkan GNU/Linux dan komunitasnya. Apa hakikatnya?

Ketika video game seperti GTA tidak bisa diinstal di GNU/Linux…
Sering pengguna mengeluhkan berdasar itu bahwa GNU/Linux < Windows. Apa hakikatnya?

Ketika berbagai software for Windows tidak bisa jalan di GNU/Linux…
Sering pengguna komplain yang arahnya menyalahkan GNU/Linux dan komunitasnya. Apa hakikatnya?

Hakikatnya…
Teman-teman kita yang melakukan contoh-contoh tudingan di atas menyalahkan pihak yang tidak bersalah yang sama sekali tidak ada hubungan dengan kasus yang dihadapi.

Permisalannya…
Anda beli mobil dari pabrik A kemudian setelah Anda pakai mobil itu cacat. Lalu Anda datangi tetangga Anda yang beli mobil dari pabrik B dan Anda menyalahkan tetangga itu dan pabrik B, kenapa pabrik B tidak memberikan Anda hak-hak Anda. Artinya Anda sedang salah alamat!

Sebuah permisalan yang sangat gamblang bahwa sama sekali bukan tetangga Anda dan bukan pabrik B yang bersalah.

Lalu siapa yang bertanggung jawab?
Produsen proprietary software yang Anda beli produknya yang bertanggung jawab. Bukan GNU/Linux dan bukan komunitas yang bersalah. Produsen proprietary sengaja tidak menyerahkan source code produknya kepada pembeli. Padahal, dari source code itulah Microsoft Office bisa difungsikan di GNU/Linux atau VGA NVIDIA bisa berfungsi sempurna di GNU/Linux. Source code itu pun harus free (=merdeka, bukan gratis) supaya Anda bisa berbagi dengan orang lain & orang lain bisa berbagi kepada Anda.

Sifat software itu…
Semua software komputer tidak peduli itu Microsoft Office ataukah permainan GTA SA memiliki wujud original yang disebut source code. Apabila pengguna memegang wujud original ini, maka Microsoft Office bisa difungsikan di GNU/Linux dan OS lainnya. Begitu pula Photoshop, CorelDRAW, AutoCAD, dan proprietary lain. Namun produsennya telah menghapus hak Anda atas wujud original ini sebelum Anda membelinya. Tujuannya membuat Anda tidak berdaya.

Ilusinya…
Ilusi proprietary yang saya maksud di sini adalah pengguna awam sering menyalahkan pihak yang tidak bersalah sebab mereka telah dibuat tak berdaya oleh proprietary software. Mereka sangka harusnya software yang mereka beli, bisa dijalankan di OS GNU/Linux (atau OS lain) (dan ini hak pengguna), namun kenyataannya tidak bisa, sebab hak ini telah dihapus oleh produsen proprietary. Mayoritas pengguna awam tidak mengetahui dihilangkannya hak mereka ini. Harapan pengguna berlawanan dengan kenyataannya.

Pesan saya… Jika proprietary software yang Anda beli cacat (tidak sesuai kehendak Anda), salahkan pengembangnya dan jangan salahkan pengembang GNU/Linux apalagi komunitasnya.

Sumber : https://restava.wordpress.com/2017/06/03/ilusi-proprietary/

Fitur Menipu Anda

cover Fitur Menipu Anda

Tulisan ini menjabarkan ketimpangan tolok ukur “manfaat teknis” untuk menilai suatu software. Fitur suatu software tercakup dalam manfaat teknis. Bagian dari fitur ialah kemudahan pemakaian, keindahan tampilan, dan kelengkapan kemampuan. Saya akan perlihatkan ukuran ini menipu Anda apabila software itu adalah nonfree.

1. “Edukasi” Secara Tak Sadar
Nonfree software yang Anda gunakan berpuluh tahun “mengedukasi” Anda secara tak sadar. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh nonfree software adalah:

  • nilailah software dari tampilan, kemudahan, dan kelengkapan fasilitasnya
  • jangan pikirkan hak-hak pengguna (yaitu Anda)
  • jangan pikirkan lisensi software
  • langgarlah perjanjian lisensi yang telah Anda sepakati sendiri
  • tunduk patuhlah dengan hormat kepada developer nonfree software

Nilai-nilai di atas adalah sengaja ditanamkan oleh pengembang dan pengedar nonfree software. Tujuannya supaya pengguna tidak berdaya dan memecah belah masyarakat sosial.

2. Masalahnya
Masalahnya nonfree software menindas Anda. Fitur yang Anda rasakan adalah ilusi. Fitur nonfree software adalah pancingan supaya pengguna menggunakannya. Fitur nonfree software adalah tipuan supaya pengguna rela ditindas olehnya.

3. Pengertian Nonfree Software
Definisi nonfree software (perangkat lunak takbebas) ialah software yang kontrol penuh atasnya dipegang tunggal oleh developernya, bukan oleh pengguna. Nonfree software didefinisikan juga software yang gagal memenuhi 4 kebebasan esensial pengguna (USE-STUDY-MODIFY-SHARE) secara utuh menyeluruh. Nonfree software disebut juga proprietary software. Baca Apa Itu Proprietary Software.

4. Fitur Menipu Anda
Untuk menilai masalah ini, Anda harus melepaskan nilai-nilai nonfree software di atas. Lawanlah nilai-nilai itu. Baliklah tiap-tiap poinnya 180 derajat. Maka Anda akan memiliki pandangan yang bersih, jernih, dapat melihat sumber masalah dengan jelas. Nonfree software memecah belah para pengguna dan membuatnya tidak berdaya. Fitur nonfree software menipu Anda dari 2 sisi:

  1. dari lisensinya
  2. dari fitur itu sendiri

Bukti yang nyata bisa Anda lihat pada Microsoft Windows (nonfree software terbesar) seperti berikut:

  1. lisensi Windows mempersyaratkan Anda baca teks lisensi dan menyepakati semua poinnya (yang hasilnya mustahil) untuk bisa menggunakan fitur Windows; jika Anda tidak melakukannya Anda dinyat
  2. di satu sisi Windows memang memberi fitur kenyamanan, namun di sisi lain Windows punya fitur aniaya yakni sudah mengandung malware sejak dari “pabriknya” (artinya Anda juga dirugikan tanpa hak membantah)

Nonfree software lain kurang lebih sama seperti Windows ini. Semua nonfree software pasti memecah belah masyarakat sosial dan pasti membuat tiap pengguna tidak berdaya. Maka dari contoh ini diketahui nonfree software yang menawarkan fitur, itu sebenarnya menipu Anda. Nonfree software tidak menghormati kebebasan pengguna.

5. Virus, Fiturnya Menipu Anda
Bukti lain yang lebih jernih bisa Anda lihat pada semua kasus virus dan malware apa saja (trojan, ransomware, drm, jail, worm, spyware, adware). Pertanyakan satu hal: bagaimana bisa virus masuk ke Windows Anda? Jawabannya adalah dengan menipu Anda melalui fiturnya. Virus membuat pengguna tidak berdaya melalui fiturnya. Virus memecah belah masyarakat melalui fiturnya pula. Maka fitur menipu Anda. Jika Anda lupa, berikut saya ingatkan contoh kasusnya:

Semua virus dan malware adalah penipu. Semua virus dan malware adalah nonfree software, adalah proprietary software. Anda paham bahwa virus dan malware penipu, jahat, kriminal, terkutuk, karena Anda tidak punya penghormatan terhadap developernya. Ini sikap yang benar dan patut. Namun bacalah bagian selanjutnya.

6. Penghormatan Anda Menipu Anda
Jika Anda ingin menghormati orang, hormati ibu dan ayah Anda, jangan berikan penghormatan itu kepada Microsoft (atau pengedar nonfree software lain). Kenapa? Jawabannya sederhana: Anda benar dalam menilai jahat segala malware & virus dan Anda tegas menolaknya; namun Anda gagal menilai Windows dan nonfree lainnya sebagai jahat dan gagal menolaknya; sebabnya karena Anda terlalu menghormati Microsoft. Penghormatan Anda mengkaburkan pandangan Anda sendiri. Anda terhindar dari data & bukti-bukti dan tercegat dari mengetahui kebenarannya karena perhormatan berlebihan seperti ini. Maka jangan berikan penghormatan kepada pengembang virus dan nonfree software.

7. Harga Menipu Anda
Jangan menilai suatu software dari harganya. Harga mahal bukanlah sinonim kebebasan dan keamanan, sama sekali tidak. Harga gratis juga bukan sinonim kebebasan. Namun tolok ukur kebebasan & keamanan pengguna ialah software freedom. Perhatikan 2 jenis pernyataan ini:

  1. apabila Windows berharga mahal, itu kerugian dobel bagi pembelinya; sudah bayar mahal, kebebasan pengguna dicabut dan mengandung malware pula
  2. apabila Windows berharga gratis, itu masih kerugian bagi pembelinya; perhatikan lisensi dan malware di dalamnya

Windows adalah contoh terbesar. Adapun nonfree software lainnya sama saja. Perlu Anda ketahui juga, semua virus & malware beredar itu gratis tetapi mereka tetaplah nonfree software, dan gratisnya virus bukanlah kebaikan. Maka jelas harga hanyalah tipuan dan bukan tolok ukur.

8. Revisi Cara Penilaian Anda
Dengan melihat pemaparan di atas, maka nilai-nilai nonfree software yang “teredukasikan” bertahun-tahun perlu Anda revisi. Ini demi kebaikan Anda sendiri dan masyarakat Anda. Berikut proposal saya:

  1. nilailah software dari software freedom: apakah pengguna memegang kontrol penuh atas software atau tidak
  2. letakkan penilaian fitur setelah penilaian software freedom, tidak sebaliknya
  3. free software yang bertampilan jelek, itu lebih baik daripada nonfree software yang bertampilan bagus, karena nonfree software tidak menghormati kebebasan pengguna
  4. free software yang kekurangan fitur tertentu, itu lebih baik daripada nonfree software yang punya fitur, karena nonfree software tidak menghormati kebebasan pengguna
  5. jika di satu kasus orang terpaksa memakai nonfree software, salahkan developernya dan minta mereka ubah lisensinya; jangan salahkan komunitas free software yang tidak memiliki fitur di satu kasus itu
  6. waspada, sering kali nonfree software adalah malware

9. Bagaimana Jika Nonfree Berubah Jadi Free?
Bagaimana jika Windows berubah lisensi jadi free software? Maka itu artinya semua pembahasan ini tidak lagi berlaku terhadap Windows dan semua pengguna Windows bebas dari penindasan Microsoft. Kerugian pengguna menjadi hilang, berubah menjadi keuntungan yang sama-sama untung antara pengembangnya dan penggunanya, mengeliminasi masalah secara fundamental dan bersih maksimal. Inilah yang diinginkan para pengguna khususnya komunitas free software selama ini. Contoh kasus macam ini sudah banyak seperti Qt Framework, OpenOffice.org, Blender, yang mereka semuanya sukses sekarang. Informasi lanjutan bacalah sumber ini.

Jika virus dan malware berubah jadi free software, maka virus dan malware itu sendiri sirna. Karena pengertian free software ialah software yang pengguna merdeka dari kuasa pengembangnya. Dunia dengan free software murni berarti dunia tanpa virus tanpa malware. Yang jadi masalah ialah apakah perubahan itu mungkin? Tanpa usaha mengedukasikan software freedom, maka ini semuanya mustahil. Selama Windows masih nonfree, OS X masih nonfree, pemikiran di balik mereka masih pemikiran nonfree, maka virus dan malware akan terus ada mencelakakan pengguna.

Sama saja dengan nonfree software lain dari selain Microsoft, apakah itu Photoshop, CorelDRAW, Dreamweaver, AutoCAD, dan lain-lain. Jika mereka berubah menjadi free software, itu kebaikan pengembangnya, menghilangkan penindasan atas pengguna, dan menguntungkan semua pihak. Namun apakah itu mungkin terjadi? Terhadap Microsoft dan para vendor mayor, jawaban kita, itu tidak mungkin. Maka tulisan ini tetap berlaku terhadap mereka semuanya.

10. Sekarang Lihat Free Software
Sekarang lihat kembali free software dan GNU/Linux. Periksalah penilaian Anda sendiri dengan nilai-nilai yang sudah berubah sesuai tulisan ini. Maka sekarang seharusnya Anda menemukan penilaian orang yang tertipu fitur nonfree software seperti ini:

  • menilai dari segi tampilannya: “tampilan jelek, saya tidak mau”
  • menilai dari segi fiturnya: “fiturnya di segi ini dan itu kurang, saya tidak mau”
  • menilai dari segi kemudahannya: “sulit, saya tidak mau”

Ketiga penilaian di atas ialah penilaian umum orang yang tertipu fitur nonfree software. Namun sekali saja mereka memahami software freedom, penilaian mereka akan berubah seperti ini:

  • segi tampilan: “apa pun tampilannya, free software memberikan freedom, free software tidak menindas saya”
  • segi fitur: “apa pun kekurangan fiturnya, saya memegang hak-hak saya, free software tidak menindas saya”
  • segi kemudahan: “apa pun kesulitannya, saya tetap diuntungkan maksimal, free software tidak menindas saya”

Adapun di balik setiap kesulitan pasti terdapat kemudahan, di balik setiap kesulitan pasti terdapat kemudahan, maka pengguna yang paham software freedom itu mampu menyelesaikannya contohnya begini:

  • segi tampilan: saya akan cari dan pelajari tampilan yang saya suka, ini lebih baik dibanding ditindas nonfree software
  • segi fitur: saya akan pelajari fitur-fitur yang sudah ada dengan tekun, karena pasti fitur free software sudah mencukupi kebutuhan saya, jika tidak maka saya akan menolong komunitas mengadakannya
  • segi kemudahan: saya akan pelajari GNU/Linux dan free software, saya akan mudahkan diri saya sendiri, dan saya akan ajari orang lain

Dan kabar gembira bagi mereka yang sudah mengerti software freedom, ternyata free software pada zaman ini sudah jauh berkembang di ketiga segi manfaat teknis di atas sampai derajat indah, lengkap, dan mudah. Pengguna free software sekarang cukup pelajari saja dengan tekun free software yang ada dan berdayakan semaksimal mungkin.

  • segi tampilan: KDE dan GNOME sangat indah di zaman ini; LibreOffice indah; GIMP dan Inkscape juga indah
  • segi fitur: sistem operasi GNU/Linux sudah komplet, fungsional dan stabil sebagai sistem operasi mengungguli UNIX dan Windows
  • segi kemudahan: KDE dan GNOME sangat berjasa membuat GNU/Linux lebih mudah bagi pengguna; Alldeb, Snappy, dan Flatpak berjasa sekali mempermudah instalasi software di GNU/Linux

Dan kabar gembira yang terakhir di sini ialah masih sangat banyak kabar gembira lain yang tidak bisa disebut di sini. Silakan mulai petualangan Anda di komunitas free software. Mulailah dari https://www.gnu.org.

11. Waspadai Nonfree Software
Waspadai nonfree software. Jangan tertipu fitur nonfree software. Jangan tertipu “edukasi” nilai-nilai nonfree software yang merugikan Anda dan orang lain. Ajarkan pengetahuan Anda mengenai software freedom ke orang lain.

Sumber : https://restava.wordpress.com/2017/02/07/fitur-menipu-anda/

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai